Vaksinasi, Harapan Memulai Semester Genap

Tahun 2021 dimulai masih dengan dengan situasi Pandemi Covid-19.

Bagi dunia pendidikan Indonesia ini berarti kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara daring melalui internet atau secara luring dengan jam belajar tatap muka yang dipersingkat (dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan 3 M).

Angin segar mulai berhembus pada tanggal 13 Januari 2021 ketika Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang di vaksin di Indonesia. Ini menandakan bahwa tidak lama lagi vaksin akan didistribusikan ke daerah-daerah, dan segera diberikan kepada semua yang memenuhi syarat, tak terkecuali bagi dunia pendidikan. Menjadi pertanyaannya adalah apakah setelah proses vaksinasi kegiatan belajar mengajar akan kembali seperti sebelum pandemi Covid-19?

Bukan Berarti Bebas

Ilustrasi : siswa memakai masker saat belajar di sekolah (sumber : gaya.tempo.co)

Hal pertama yang harus diingat adalah “vaksin bukan obat” jadi vaksin ini bersifat mencegah (dengan memperkuat imunitas tubuh terhadap suatu virus) bukannya mengobati. Seperti yang telah diumumkan pemerintah dalam situs resmi covid-19.go.id bahwa vaksinasi bertujuan meningkatkan imunitas kelompok, bukan berfokus pada imunitas individu. Ini berarti setelah vaksinasi dilakukan sesorang bukan berarti secara otomatis kebal terhadap virus Covid-19.

Vaksin membutuhkan waktu untuk membentuk antibodi dalam tubuh manusia, proses nya berbeda-beda untuk setiap orang ada yang cepat ada pula yang lambat. Juga target utama vaksinasi adalah pada umur 18-59 tahun yang merupakan kelompok usia terbanyak terpapar COVID-19, jadi bukan untuk usia siswa SMP (13-15 tahun). Hal ini mewajibkan mereka, siswa/i di tingkat dasar ( SD dan SMP) untuk tetap mematuhi protokol kesehatan 3M. Jadi, apakah vaksin menjadi sia-sia belaka?

Tentu saja tidak, vaksinasi tetap menjadi harapan bagi kita ditengah pandemi ini, hanya dampaknya baru bisa dirasakan setelah beberapa waktu. Pemerintah menargetkan setidaknya 60% penduduk Indonesia secara bertahap akan mendapatkan vaksin COVID-19 agar mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Penjelasan tentang kekebalan kelompok dapat dilihat diilustrasi penjelasan berikut :

Daring atau Luring

Kembali ke dunia pendidikan, jika ditanya apakah setelah vaksinasi kita akan berkegiatan belajar-mengajar seperti sebelum pandemi. Kita sekarang sudah tahu jawabannya, tentu saja tidak! Protokol kesehatan 3M tetap menjadi senjata ampuh melawan virus ini. Jadi, apakah luring atau daring yang harus kita lakukan? Tentu saja pilihan kembali ke masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan keadaan dimasing-masing lokasi, sarana-prasarana penunjang protokol kesehatan, hasil rapat guru, keputusan dinas pendidikan setempat dan lain-lain.

Tapi satu hal yang tidak kita lupakan sebagai tenaga kependidikan adalah tetap bersemangat mengajar maupun mempersiapkan materi pelajaran. Tidak soal dilakukan jarak jauh atau tatap muka langsung, tetaplah menjadi guru yang memotivasi siswa. Kita semua memang merindukan bebas dari pandemi ini, tapi ini tidak berarti berpangku tangan melihat keinginan belajar anak-anak kita yang makin hari makin dikalahkan game online, sinetron, media sosial, dan antek-anteknya.

Tetap bersemangat

Jadilah teladan, jadilah pembakar semangat belajar siswa. Persiapan materi ajar yang bisa dinikmati siswa, walaupun dalam waktu singkat. Sampaikan materi yang bermakna walaupun disampaikan melalui jarak jauh. Pandemi bukan alasan menyurutkan semangat mengajar kita.

Semoga tulisan ini mampu motivasi dan menginspirasi kita semua.

-Salam