Harapan dibalik KSN (Kompetisi Science Nasional) 2020

Tak ada rotan, akar pun jadi.

Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan semangat kami, guru dan siswa SMP Negeri 3 Balusu dalam mengikuti KSN ( Kompetensi Science Nasional) tingkat SMP. Pelaksanaan KSN yang sempat tertunda sebelumnya, akhirnya dilaksanakan pada tanggal 14 – 16 Oktober 2020. Namun ada yang berbeda pada pelaksanaan KSN di tahun ini. Dengan alasan sedang dalam pandemi Covid-19, kegiatan tahunan ini pun dilaksanakan secara daring/online menggunakan smartphone.

Ketiga siswa peserta KSN dari sekolah kami adalah Septi Pandandi, siswa kelas 9, untuk mapel Matematika, Anne Timang, siswa kelas 9 untuk mapel IPA, dan Alvin Mangadi untuk mapel IPS. Mereka sebenarnya sudah memiliki smartphone yang siap digunakan untuk KSN dan juga sudah mengikuti geladi bersih beberapa hari sebelum hari H dari rumah mereka masing-masing. Masalah kami yang hadapi adalah disekolah kami jaraingan internet sangat buruk. Jangankan untuk mengunduh  soal  di smartphone, membuka pesan di media sosial seperti Whatsapp atau Telegram saja kami harus berdiri di tempat-tempat tertentu untuk membaca pesan.

Maka seperti peribahasa diawal, beberapa guru pembimbing KSN serta operator berdiskusi untuk mencari solusi. Ternyata jalan keluarnya adalah mencari lokasi di luar sekolah yang memeilik jaringan internet yang memadai, agar siswa-siswi kami tetap bisa berpartisipasi dalam program Kemendikbud ini. Cara ini  juga mendapat restu dari Kepala Sekolah dan Dinas Pendidkan setempat.

Setelah bertanya dan mencari beberapa kenalan, kami pun mendapat satu lokasi yaitu warnet wifi di Jalan Serang Rantepao yang memiliki  akses internet yang bagus. Uji kecepatan internet kami lakukan menggunakan dengan laptop dan smartphone guru untuk mengetahui kecepatan internetnya. Hasilnya bagus dan layak untuk digunakan untuk mengikuti KSN, namun karena tempat itu adalah warnet yang tentu saja banyak pengguna lain yang juga nongkrong dan menggunakan internet di tempat itu. Jadi kami ajak pemilik warnet itu berdiskusi, agar tidak menerima pengunjung lain di tempat usahanya untuk beberapa jam agar siswa kami  bisa mengerjakan soal dengan tenang. Alhasil beliau bersedia, tentu saja dengan syarat pembayaran biaya tambahan dari harga normal. Kami pun sepakat. Bahkan akan memasang tanda di lokasi agar pengunjung lain tahu tempat itu sudah disewa/booking.

Setelah kesepakatan itu, selanjutnya selama 3 hari kami secara bergantian menjemput siswa dari lokasi sekolah, Karua Kecamatan Balusu menuju Rantepao yang memakan waktu kurang lebih 40 menit dengan kendaraan bermotor.  Kami tiba di lokasi lebih awal agar masih ada waktu untuk login dan mengunduh  soal. Pada waktu yang ditentukan KSN dimulai dan berlangsung sekitar 2 jam lebih. Setelah selesai kami memastikan jawaban siswa telah terkirim. selanjutnya kami mengajak siswa/i kami bersantai sejenak untuk makan siang di warung makan yang berada di sekitar Rantepao. Lalu mengantar siswa kembali ke rumahnya masing-masing.  Hal ini berlangsung selama tiga hari.

Makan Siang bersama setelah KSN
Makan Siang bersama setelah KSN

Melalui kegiatan ini kami menyadari  akses internet bagi sekolah terutama di masa pandemi ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Selain untuk kegiatan seperti KSN, FLS2N yang berlangsung secara daring/online, tugas rutin lainnya seperti sinkronisasi Dapodik, mencari referensi dalam membuat perangkat pembelajaran (RPP, Silabus, dll) maupun mencari materi pembelajaran, sangat membutuhkan pada jaringan internet. Bahkan ada pendapat yang mengatakan kebutuhan internet sudah menjadi kebutuhan pokok ke sepuluh (dulunya sembako ; sembilan bahan pokok).

Tentu saja keadaan ini tidak hanya dirasakan oleh sekolah kami, tapi juga oleh banyak sekolah di daerah pelosok, khususnya di Toraja Utara. Namun kami yakin keadaan ini tidak memupuskan harapan kita semua untuk terus mendorong anak-anak didik kita agar terus berkarya dan berprestasi. Malah hal ini justru bisa memacu kreativitas dan kerja keras kita semua demi berkembangnya pendidikan di daerah kita tercinta ini, Toraja Utara.

Besar harapan kami agar suatu saat nanti warga sekolah kami bisa menikmati fasilitas internet yang memadai dan bisa digunakan untuk menunjang kinerja guru maupun mendorong motivasi belajar siswa-siswi di sekolah kami . Maka, melalui tulisan ini semoga bisa membuka mata dan telinga para pemangku jabatan dan para pembuat kebijakan, terutama di bidang pendidikan untuk lebih memperhatikan sarana prasarana penunjang pendidikan. Amin.

Leave a Comment